TO COOL TO SHARE: REVIEW 12 FILM HOROR KEREN
Udah
lama gue nggak menulis review film horor, maka dari itu gue langsung
mereview 11 (plus 1 bonus) film sekaligus. Kalo biasanya gue terpaku
ama horor2 Asia, sekarang gue lebih terbuka ama film2 horor Barat. Di
sini nggak hanya ada film Korea, tapi juga film Hollywood, Cina,
Filipina, hingga Australia. Yang jelas2, semuanya asyik buat
dipantengin. Film-film yang akan gue review adalah Grave Encounters,
Dyatlov Pass Incident, Nightmare, Sundo, Apollo 18, Lake Mungo, The Bay,
Deranged, Willow Creek dan Exists, And Then There Were None, dan
Predestination.
1. Grave Encounters
Film
ini emang tipikal film2 horor “found footage” alias sinematografinya
bergaya dokumenter, kayak “Blair Witch Project” dan “Paranormal
Activity”. Film2 model begini emang dianggap kreatif dan “avant grade”
pada masanya, namun gara2 kebanyakan, mungkin sekarang udah dianggap
biasa ya. Namun kelebihan dari film2 model beginian adalah adanya kesan
kalo ceritanya nyata (bukan fiktif) dan juga keuntungan buat
produsernya, menghemat budget. Gerakan2 shaky dan kadang2 blur dari
kameranya juga malah menambah kesan misteri dan seram.
Jalan
ceritanya sih cukup simpel, mengisahkan kru reality show “Grave
Encounters”, sebuah acara yang kalo di indonesia mungkin bisa disamain
dengan “Uka Uka”. Keempat kru dan seorang paranormal palsu memutuskan
untuk merekam sebuah gedung seram bekas rumah sakit jiwa untuk acara
mereka. Nah, di awal acara kita bisa langsung tahu kalo mereka semua
sebenarnya nggak percaya hantu dan sebagian besar memalsukan penampakan2
yang mereka rekam agar acara mereka laris. Namun di sini mereka justru
kena batunya karena mereka menemukan bahwa gedung terbengkalai itu
benar2 berhantu. Satu-persatu anggota kru pun mengalami pengalaman
menakutkan dan lenyap satu demi satu.
Dari
cerita emang nggak ada spesial, namun tetap saja, film2 model “found
footage”s eperti ini bikin gue merinding, sebab kita nggak tahu apa yang
bakal kita liat dalam adegan berikutnya. Banyak pula “jump scare” yang
gue bilang sih brilian. Yang paling menakutkan adalah kenyataan dimana
mereka terjebak tanpa satupun jalan keluar, seolah-olah mereka cuman
berputar2 di dalam labirin. Sayang untuk film horor sepanjang 1,5 jam
ini, gue merasa adegan2 seramnya masih kurang banyak. Selain itu
endingnya pun gue rasa nggak cukup memuaskan. Gue cuman berani kasih 4
CD berdarah buat film ini. Tapi overall, film ini nggak terlalu
mengecewakan buat kalian yang mencari film horor untuk mengisi waktu
luang kalian.
Adegan
paling serem: adegan pas mereka nemu cewek misterius di dalam salah
satu kamar dan tiba-tiba dia noleh. Aww ... f*ck men!
Yang gue pelajarin dari film ini: Nggak di Indo nggak di Amrik, sinyal hape selalu ilang pada saat mendesak.
2. Dyatlov Pass Incident
Gue
sebenarnya trauma ngeliat film2 horor yang membahas kisah nyata,
soalnya gue udah jera gara2 liat “Chernobyl Diaries”. Traumanya bukan
gara2 filmnya serem guys, tapi gara2 kecewa. C’mon guys, lokasi syuting
mereka udah jauh2 di Pripiyat beneran, namun ceritanya gitu2 aja.
Makanya ketika gue menemukan film yang serupa, gue sempet underestimate
film ini. Film “Dyatlov Pass Incident” dan “Chernobyl Diaries” emang
memiliki banyak kesamaan. Pertama, ceritanya didasarkan pada kejadian
yang bener2 faktual, sinematografinya bermodel “found footage” alias
direkam dengan kamera video ala dokumenter, dan sama2 berlokasi di
Rusia. Namun ternyata dugaan gue meleset jauh. Film yang satu ini
ternyata jauh lebih bagus ketimbang ekspetasi gue.
Buat kalian
yang belum tahu apa itu Dyatlov Pass Incident, gue sebenarnya pernah
membahasnya di salah satu postingan blog gue. Singkat saja, Dyatlov Pass
Incident adalah tragedi yang menimpa 9 orang pendaki gunung asal Rusia
di pegunungan Ural. Mereka bersembilan kemudian ditemukan tewas dalam
kondisi misterius. Hingga saat ini, tak ada seorangpun tahu apa yang
sebenarnya terjadi terhadap mereka dan banyak yang menyalahkan UFO dan
alien sebagai penyebab kematian mereka. bisa dibilang, Dyatlov Pass
Incident merupakan salah satu misteri yang belum terpecahkan sepanjang
sejarah.
Film yang juga disebut “Devil’s Pass” ini (mungkin
untuk menghindari melukai perasaan keluarga korban Dyatlov Pass Incident
yang sebenarnya) bercerita tentang 5 orang anggota pembuat film
dokumenter asal Amrik yang hendak menelusuri jejak para pendaki di
Dyatlov Pass tersebut dan mencoba memecahkan misteri tentang apa yang
sebenarnya terjadi pada mereka. Mereka merekam perjalanan mereka dan
menemukan berbagai hal2 aneh yang nggak bisa dijelaskan dengan akal
sehat. Dan yang seperti bisa kita duga, misteri itu kemudian menelan
nyawa mereka satu demi satu.
Film ini unik menurut gue karena
menawarkan penjelasan lain terhadap kasus Dyatlov Pass Incident (yah,
walaupun penjelasannya Amerika banget. Inget guys, ini Rusia!). Dan
faktor inlah yang memberikan “kejutan” bagi gue karena sejak awal gue
menduga keterlibatan alien. Dan juga plot twist di endingnya, benar2
cerdas dan nggak terduga! Pokoknya nggak rugi deh kalo kalian melihat
film ini, pasti kalian bakal menikmatinya. Makanya gue kasih nilai
hampir sempurna, 4,5 CD berdarah!
Adegan
paling seram: mungkin mayoritas dari yang udah liat film ini adalah
adegan pas monsternya keluar *ups spoiler, sorry* tapi gue malah merasa
itu nggak seram. CGI-nya malah lebay banget hehehe. Adegan paling serem
justru pas sang tokoh utama bilang mereka sudah sampai di TKP dimana
para pendaki menghilang, namun sang pemimpin rombongan justru bilang
mereka harusnya sampai di sana berhari-hari kemudian. Hmmm ...
Yang gue pelajarin di film ini: yup, semua orang di Rusia ternyata lancar berbahasa Inggris (tanpa aksen)
3. Nightmare
Pertama2,
gue mau membahas keheranan gue, mengapa dari semua negara yang ada di
Asia, gue jarang banget denger film horor Tiongkok yang booming. Kenapa
mereka bisa kalah jauh sama negara2 tetangga mereka seperti Jepang,
Korea, bahkan Thailand? Film horor Tiongkok terakhir yang gue liat
adalah “The Eye”, dan kalo dipikir2, sebenarnya itu film Taiwan, bukan
film dari dataran Tiongkok beneran.
Selidik punya selidik,
ternyata Tiongkok yang masih memeluk paham komunis (walaupun tahun2
terakhir ini mulai terbuka) ternyata menerapkan sensor yang amat ketat
pada dunia perfilmannya, termasuk film horor. Film2 horor yang bertema
klenik (hantu dll) ternyata dilarang untuk didistribusikan di sana,
sehingga para sineas film horo mau tak mau harus lebih kreatif untuk
menghindari sensor. Film ini buktinya. Ketimbang menyajikan jump2 scare
kayak setan yang tiba2 nongol kayak film2 horor Asia lain, film ini
lebih menggali materi2 horor thriller psikologis dan bercampur dengan
tema detektif.
“Nightmare” bercerita tentang Dong Xi seorang
cowok pebisnis muda yang menderita insomnia dan suatu malam tanpa
sengaja menyaksikan kematian seorang gadis yang menjadi tetangganya.
Namun saat ia menyelidikinya bersama penjaga keamanan apartemennya,
mereka tak menemukan mayat gadis itu. Bahkan kamar yang dihuni gadis itu
ternyata kosong dan bertahun2 tak dihuni. Dong Xi bersama kekasihnya
mencoba memecahkan misteri dan satu2nya jalan adalah menguak misteri
pembunuhan lain yang pernah menghantui masa lalunya.
Film ini
bisa dibilang biasa2 aja di bagian depannya, namun beranjak ke belakang,
ceritanya semakin seru. Klimaksnya adalah di bagian akhir, dimana akan
terungkap kenyataan2 yang tak terduga dan benar2 bikin gue nganga. Di
sini, sama seperti film2 misteri pembunuhan lainnya, kita bakalan diajak
menebak-nebak siapakah “the real culprit” atau pembunuh yang
sebenarnya. Gue sih sebenarnya bisa nebak siapa pelakunya, namun tetap
saja, sama sekali nggak pernah terlintas sedikitpun di benak gue bahwa
endingnya bakal kayak gini. Jujur, bagi penggemar film misteri dengan
plot twist seperti ini, film ini cukup memukau gue. Gue kasih nilai 4 CD
berdarah dari total 3,5 CD berdarah buat film ini.
Adegan
paling serem: Bukan serem sih, tapi salah satu adegan yang bikin gue
shock adalah pas kita tahu bahwa si pacar ternyata adalah ....
Yang
gue pelajarin dari film ini: Nyeburin baterai ke sungai bisa
menyebabkan orang yang masuk ke sungai langsung mati kesetrum
4. Sundo
Kita
emang nggak boleh memandang film2 horor Filipina guys. Walaupun jarang
ada yang booming, tapi kualitasnya nggak kalah dengan negara2 lainnya.
Film horor Filipina terakhir yang gue liat adalah “The Road” yang sama
sekali nggak mengecewakan. Nah, kali ini gue akan membahas film “Sundo”
yang sebenarnya sih remake “Final Destination”. Namun yang membuat film
ini pantas direview adalah film ini nggak cuman plagiat aja, melainkan
memasukkan unsur2 yang “Filipina” banget di sini.
Pada bagian
awal film, kita disuguhkan narasi yang menceritakan kepercayaan lokal
Filipina tentang sundo atau “arwah penjemput”, yakni jika kita akan
meninggal, maka kita akan dijemput arwah orang yang kita cintai yang
terlebih dahulu meninggal. Cerita kemudian berlanjut ke Romano, seorang
mantan tentara yang memiliki indra ke-6 dan keluarganya yang akan pergi
ke Manila. Di tengah jalan, Romano bermimpi bahwa mereka akan mengalami
kecelakaan. Mimpi itu hampir saja mejadi nyata jika saja Romano tidak
segera menyelamatkan mereka. Namun karena takdir mereka memang
seharusnya mati pada saat itu, kematian misterius pun mulai merenggut
nyawa mereka satu demi satu.
Ceritanya emang tipikal franchise
“Final Destination” banget kan, namun sabar aja deh. Selain adegan2
kematiannya nggak mengecewakan (walaupun nggak sesadis Final Destination
yang asli), endingnya juga keren banget. Twist endingnya .... puoool!
Gue jadi tertarik nih mendalami film2 horor Filipina gara2 film ini. Gue
bakal ngasih 4 CD berdarah dari total 5 CD berdarah.
Adegan paling serem: pas ada yang mati gara2 bakar sate ... nggak serem sih, cuman lucu aja.
Hal yang gue pelajarin dari film ini: pasar di Filipina ternyata sama aja kayak pasar di Indonesia
5. Apollo 18
Gue
emang demen banget yang film horor yang bertema “found footage” . Nah,
film found footage kali ini kreatif sebab setting lokasinya nggak biasa
banget, yakni di Bulan! Pesawat ulang alik terakhir yang mendarat di
Bulan adalah Apollo 17 dan setelah itu NASA tak lagi melakukan misi
pendaratan manusia ke Bulan. Nah, film ini mencoba menyorot sebabnya
dengan sudut pandang Hollywood tentunya.
Film ini menceritakan
sebuah misi rahasia peluncuran pesawat Apollo 18 ke Bulan. Bahkan saking
rahasianya, para astronotnya pun dilarang untuk menceritakan misi
tersebut ke keluarga mereka sendiri. Misi Apollo 18 yang beranggotakan 3
astronot ini awalnya lancar, hingga mereka mulai menemukan hal2 aneh.
Hal2 simpel yang mungkin biasa aja kalo terjadi di Bumi jadi terasa
banget horornya kalo terjadi di Bulan. Bayangin aja ketika kalian lagi
berada di Bulan yang seharusnya nggak ada kehidupan sama sekali dan
bendera Amerika yang ditancapin di depan pesawat tiba2 lenyap! Kalo di
Bumi pasti langsung maling jemuran yang jadi tersangka utama. Tapi
kalian lagi ada di Bulan siapa yang mau dituduh???
Film ini
keren banget menurut gue karena sangat original. Nggak usah dengan jalan
cerita horor pun, shot footage yang item putih dengan latar belakang
langit Bulan yang gelap gulita cukup menciutkan nyali. Adegan yang
paling gue suka yakni adegan ini saat salah satu astronotnya meluncur ke
dasar sebuah kawah dan menyorot temannya yang berada di permukaan atas.
Terasa banget khan ke-eerie-annya.
Singkat kata, gue berani
kasih film ini nilai hampir sempurna yakni 4,5 CD berdarah. Selain
konsepnya yang fresh dan berani beda, film ini membuktikan bahwa film
fiksi ilmiah dengan setting luar angkasa ternyata bisa dibuat dengan
teknik sederhana yang nggak perlu mahal. Film ini malah bikin gue curiga
ama teori konspirasi kalo rekaman pendaratan manusia ke Bulan
sebenarnya bikinan Hollywood untuk memenangkan Perang Dingin ....
hmmmmm.
Adegan paling serem: adegan pas nemu mayat kosmonot Rusia di kawah bulan
Yang
gue pelajarin dari film ini: ada wifi di bulan, soalnya walaupun semua
kru mati, foto dan video mereka bisa balik lagi ke Bumi.
6. Lake Mungo
Gue
belum pernah menonton film horor Australia sebelumnya, jadi pas gue
mendengar ada film horor asli negeri kanguru yang mendapat peringkat
tinggi di Rotten Tomatoes, gue langsung excited. Film “Lake Mungo”
bergenre found footage, namun lebih ke arah gaya film mockumentary
(mirip film dokumenter). Gue lebih suka gaya ini, soalnya kamera lebih
“steady”, nggak “shaky” kayak film found footage amatir. Jadi nonton
film ini nggak bakal bikin kita puyeng karena sakit kepala.
Film
ini menceritakan sebuah keluarga yang berduka akibat meninggalnya
Alice, putri mereka yang masih berusia 16 tahun. Sepeninggal gadis itu,
keluarga tersebut mengaku mulai mendapat penampakan2 misterius di rumah
mereka. Setelah mengalami beberapa plot twist yang nggak terduga,
penyelidikan mereka akhirnya berujung ke sebuah handphone sang gadis
yang ditemukan di Danau Mungo. Ternyata kunci kematian sang gadis berada
pada rekaman video handphone tersebut yang berisi sebuah kenyataan yang
sangat menakutkan dan disturbing.
Film ini bukan tipikal film
horor penuh jump scare yang membuat kita jerit2 ketakutan kayak
“Insidious”. Sebaliknya, film ini bisa dibilang dipenuhi “pic riddle”
kayak di blog gue, jadi kalian bakal disuguhi foto atau potongan rekaman
video dan kalian harus melihat dengan saksama bagian yang menyeramkan
dari gambar2 yang keliatan “innocent” itu. Belum lagi pas bagian yang
serem itu di-zoom ampe blur dan pixelnya pecah2. Hufh ... disturbing
banget! Yang bisa gue sarankan buat kalian, jangan liat film ini malam
hari, soalnya bakalan bener2 bikin kalian merinding dan dijamin tidur
kalian nggak bakal nyenyak.
Berapa
CD berdarah yang gue kasih untuk film ini? Nggak tanggung2 gue kasih
nilai sempurna alias 5 CD berdarah untuk film. Keren khan? Soalnya
sedikit film yang gue tahu bisa membuat takut para pemirsanya hingga ke
post creditnya sekalipun.
Adegan
paling serem: adegan waktu keluarga Alice melihat video yang tersimpan
di handphone Alice gue rasa cukup creepy. Tapi yang paling bikin gue
merinding jelas post creditnya ..... awwww fak!!!!
7. The Bay
Kalian
pasti pernah dengar istilah “horror psikologis” tapi “horor ekologis?
Yap, itulah genre yang dianut oleh film bertema found footage ini. “The
Bay” menceritakan liputan pesta perayaan kemerdekaan Amrik yang berakhir
dengan insiden biologis yang menewaskan ratusan orang. Kegembiraan para
penduduk berubah menjadi kengerian ketika mereka mulai menderita
penyakit aneh yang ternyata disebabkan isopoda pemakan lidah (pernah gue
bahas di salah satu postingan gue tentang 10 parasit).
Singkat
kata gue berani kasih nilai sempurna 5 CD berdarah buat film gue.
Pertama, walaupun gaya penyampaiannya pas2an, namun terbukti efektif
dalam menyampaikan pesan moralnya: bak efek bumerang, jika kita merusak
alam, maka kita sendiri yang akan menanggung akibatnya. Kedua, film ini
juga membuktikan kalo nggak perlu efek spesial canggih untuk menakuti
pemirsanya. Ada adegan yang gue suka banget pas dua orang polisi
mendatangi sebuah rumah yang terinfeksi. Kamera cuman menyorot bagian
depan rumah itu dan segala kehororan yang terjadi di dalamnya
diungkapkan dengan percakapan yang terdengar dari luar rumah. Namun itu
udah lumayan untuk membuat merinding. Percakapan juga dirancang untuk
memberi suasana “unsettling”, kayak pas si wartawati menyorot sebuah
keluarga di awal film dan mengatakan bahwa nantinya tak akan di antara
mereka yang selamat. Ketiga, film ini lebih nyaman untuk dilihat
ketimbang film bergenre found footage lainnya sebab ada narasi yang
mengimbangi cerita sedari awal. Walau mungkin ada sedikit kebingungan
bagi pemirsa pas flashback nasib para peneliti yang pada awal film
diceritakan sudah meninggal.
Singkat kata, gue kasih nilai
sempurna 5 CD berdarah buat film ini karena gue puas banget. Bahkan gue
nontonnya ampe beberapa kali lho guys gara2 sesuai banget ama selera gue
dan nggak bosen2 buat ditonton kembali.
Adegan paling seram: Adegan saat operasi amputasi, gue langsung “Really? Gambar itu harus di-shoot?”
Yang
gue pelajarin dari film ini: situs website paling ilmiah dan reliable
yang akan dicek oleh para dokter dan ilmuwan yang berada di sebuah badan
kesehatan resmi pemerintah saat mencari tahu informasi mengenai parasit
berbahaya: wikipedia
8. Deranged
Akhirnya
.... film Korea! Yeeeey! Ini adalah film Korea bertema monster kedua
yang gue liat setelah “Section 9”. Ceritanya tentang serangan cacing
parasit bernama yeon-gasi yang menyebabkan manusia mengalami dehidrasi
parah. Ujung2nya korban akan nekad menceburkan diri ke dalam sungai atau
sumber air terdekat hingga mati tenggelam. Parasit ini beneran ada lho
(silakan cek di wikipedia) tapi hanya menyerang serangga. Tokoh utamanya
adalah seorang mantan profesor biokimia bernama Jae-Hyuk yang marah
pada adiknya (diperankan Kim Dongwan dari boyband Shinhwa) karena
menyebabkan semua uang tabungannya hilang di pasar saham sehingga ia
terpaksa bekerja sebagai sales farmasi. Jae-Hyuk melampiaskan semua
kemarahannya pada istri dan kedua anaknya, namun ia langsung dirundung
penyesalan begitu keluarganya terinfeksi oleh parasit tersebut. Kini
Jae-Hyuk terpaksa bekerja sama dengan adiknya untuk menyelamatkan
keluarganya. Namun musuh sebenarnya yang akan dihadapi para tokoh
utamanya bukanlah parasit mematikan tersebut, melainkan korporasi
farmasi yang hendak memperoleh keuntungan dari semua musibah tersebut.
Film
Deranged ini awalnya membosankan pada 15 menit pertama. Namun begitu
wabah parasit itu ditemukan dan menyebar, ritme film ini langsung
bergerak cepat, membuat film ini terasa sangat seru. Apalagi wabah
parasit ini bisa dibilang menyerupai wabah zombie, sebab kekacauan
terjadi dimana2 ketika para korbannya tak bisa mengendalikan diri mereka
untuk menenggelamkan diri mereka ke dalam air.
Di
sini gue sengaja nggak ngasi nilai berupa CD berdarah soalnya gue
aslinya belom kelar liat film ini hehehe. Kalo ada link film full
version-nya kasi tau gue dong???
Yang gue pelajarin dari film
ini: ketika terjadi wabah dimana para korbannya akan menenggelamkan
dirinya ke sungai, maka langkah preventif yang dilakukan pemerintah
adalah memasang pembatas di tepi sungai yang terbuat dari ..... tali
plastik.
9. Willow Creek dan Exist
Bukan
tanpa alasan gue mereview dua film sekaligus, sebab kedua film ini
bergenre sama yakni “Found footage” dan temanya pun sama, yakni
pencarian bigfoot. Bigfoot ama makhluk2 cryptozoologi lainnya di
Indonesia sendiri mungkin kurang terkenal ya (soalnya setan lokal lebih
serem). Tapi di Amrik sana, bigfoot merupakan legenda misterius yang
hingga saat ini belum terpecahkan, terutama karena video Patterson –
Gimlin sebuah video penampakan bigfoot yang menurut para ahli merupakan
video otentik tanpa rekayasa.
Kedua film ini ceritanya hampir
mirip. “Willow Creek” menceritakan sepasang kekasih yang berkelana ke
Willow Creek, sebuah daerah pegunungan yang diduga menjadi tempat
bersemayamnya bigfoot untuk membuat film dokumenter. Sementara “Exists”
menceritakan 5 orang sahabat yang berlibur di sebuah kabin di tengah
gunung dan bertemu sosok bigfoot, yang bukan tanpa alasan, mengejar dan
membunuh mereka satu demi satu.
Walaupun memiliki tema sama,
namun kedua film ini menggunakan pendekatan berbeda dalam menyajikan
sosok bigfoot. “Willow Creek” sangat pelit dalam menampakkan sosok
bigfoot (cuman dengan suaranya aja, yang menurut gue udah bikin ngeri
setengah mati), sedangkan “Exists” justru menampilkan sosok bigfoot
secara full frontal, bahkan sejak awal. “Willow Creek” hampir 3/4
bagiannya di awal digunakan untuk pengenalan karakter, baru 1/4 bagian
di ending baru kerasa horornya. Namun “Exists” justru sebaliknya, nggak
perlu pengenalan tokoh sama sekali, langsung aja para tokohnya satu demi
satu pada mati diburu bigfoot.
Mana yang gue suka? Well,
semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. “Willow Creek” emang agak
membosankan awalnya, namun saat “revelation” atau pengungkapan di bagian
endingnya gue rasa nggak bakal ketebak oleh siapapun. “Exists” seru
dari awal, tapi gue justru mikir, kok endingnya cuman gini? Secara
keseluruhan, kedua film ini gue kasih nilai yang sama, yakni 3,5 CD
bigfoot berdarah (bigfoot pake CD kagak ya?).
10. And Then There Were None
Gue
sempat terkesima setelah menyaksikan film “Cabinet of Dr. Caligari”,
sebuah film buatan tahun 1928 dan merupakan film horor pertama dalam
sejarah dunia. Filmnya masih hitam putih, bisu, dan nggak terlalu
nyeremin (walau menjadi salah satu film pertama dalam sejarah yang punya
plot twist di endingnya). Karena itu gue tertarik mereview film hitam
putih lainnya. Salah satu film kuno yang gue tonton adalah “And Then
There Were None” buatan tahun 1945 yang merupakan adaptasi novel
karangan Agatha Christie berjudul “Sepuluh Anak Negro”. Pecinta novel
detektif pasti sudah tak asing lagi dengan nama Agatha Christie. Novel
“Sepuluh Anak Negro” dikenal sebagai novelnya yang paling sukses dan
legendaris.
Jalan cerita “And Then There Were None” dianggap
sangat original pada masanya dan menginspirasi tak terhitung banyaknya
film2 horor masa kini. Dikisahkan 10 orang yang tak saling mengenal
diundang secara misterius ke sebuah pulau terpencil. Di sana terkuak
bahwa kesepuluh tamu tersebut memliki masa lalu kelam, yakni kesemuanya
pernah membunuh seseorang namun lolos dari pembunuhan tersebut. Satu
demi satu tamu terbunuh secara berurutan dan para tamu yang tersisa
kemudian mengambil kesimpulan yang mengejutkan: pembunuhnya adalah salah
satu dari mereka!
Film
ini mengikuti pola cerita “whodunnit” klasik dimana identitas sang
pelaku adalah seseorang yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya.
Walaupun masih hitam putih, tapi gue bisa menikmati jalan ceritanya
dengan baik. Sayang sekali, gue udah duluan baca novelnya sehingga pas
identitas sang pelaku yang sebenarnya terungkap di akhir cerita, gue
sama sekali nggak kaget. Tapi tetep saja, buat yang belum pernah membaca
novelnya pasti akan merasa tercengang. Ending film ini juga sangat
berbeda dengan ending novel aslinya. Tapi gue lebih suka ending di
novelnya, yang lebih kelam dan “gritty” (akhir di versi filmnya terlalu
happy ending), karena itu gue kasi nilai 4,5 CD berdarah aja.